Jumat, 10 Agustus 2007

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU

Postingan ini luput diposting dalam rentetan postingan-postingan tentang pertikaian Aceh vs pusat.
Wassalam
HMNA
BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]

Tuhan, Marahkah Kau Padaku?
Beberapa hari yang lalu dalam acara "Indonesia Menangis" di Metro TV kita dapat saksikan Sherina Munaf menyanyikan lagu:
Tuhan marahkah kau padaku?
Sungguh deras curah murkaMu
Kau hempaskan jarimu di ujung Banda
Tercenganglah seluruh dunia
Tuhan mungkin Kau kuabaikan
Tak kudengarkan peringatan
Kusakiti engkau sampai perut bumi
Maafkan kami oh rabbi
Engkau yang perkasa jangan marah lagi
Biarkanlah kami songsong matahari
Engkau yang pengasih ampunilah dosa
Memang semua ini kesalahan kami
Oh Tuhan ampuni kami
Oh Tuhan tolonglah kami
Tuhan ampuni kami
Tuhan tolonglah kami
Karena menuai protes, maka baris kedua diganti dengan: "Inikah akhir duniaku", kata seru "oh" dalam baris ke-8 diganti dengan "ya" dan baris ke-9 diganti dengan "Engkau yang perkasa pemilik semesta". Walaupun sudah dimansukh (siamandemen) , namun baris ke-12 "Memang semua ini kesalahan kami" masih problematis. Siapakah itu yang dimaksud oleh pencipta lagu (kalau tak salah Chosy Pratama?) dengan "kami"? Siapa lagi, tentu orang Aceh bukan? Kalau bendungan Biliq-Biliq diserang "tsunami" lumpur dari longsoran G. Bawa KaraEng, sehingga PDAM bagian selatan kota "mati kutu", maka itu benar memang semua itu kesalahan kami. "Kami" di sini maksudnya perambah hutan tradisional penduduk setempat yang pakai kapak dan terutama sekali perambah hutan modern yang punya lisensi yang pakai mesin gergaji.
Suatu kesalahan besar Chosy Pratama, karena orang Aceh sama sekali tidak terlibat dalam hal terjadinya gempa yang membuahkan tsunami pada 26 Desember 2004. Ataukah Chosy Pratama dengan adanya kata "dosa" dalam baris ke-11, mempunyai persepsi karena dosa orang Acehlah maka Allah murka sehingga menggetarkan lempeng di dasar laut 150 kilometer sebelah Barat Daya Aceh itu. Patut diduga demikianlah persepsi Chosy Pratama, jika dikaitkan dengan baris kedua "Sungguh deras curah murkaMu", yang telah dimansukh menjadi "Inikah akhir duniaku". Jadi walaupun baris-baris itu telah dimansukh, namun dengan tidak dimansukhnya baris ke-11 dan 12, maka tidaklah terhapus persepsi Chosy Pratama yang absurd itu: karena dosa orang Acehlah maka Allah murka.
***
Dalam Seri 657 termaktub: Tak ayal lagi gempa tektonik 150 kilometer sebelah Barat Daya Aceh yang menyebabkan timbulnya tsunami yang menyapu Aceh sebagai front terdepan adalah isyarat Allah SWT yang perlu kita tepekur merenungkan makna isyarat itu.
Khalifah 'Umar ibn Khattab RA turun langsung mengadakan penelitian sampai di mana keimanan rakyatnya. Dipilihnya sampel seorang gembala di bukit yang sedang menggembalakan ternak. "Ya, walad, saya ingin membeli seekor biri-birimu" , kata Khalifah. "Ya, syaikh, biri-biri itu kepunyaan majikan saya. Pergilah tuan ke balik bukit itu menjumpainya, " jawab gembala itu. "Wah saya terburu-buru, tidak punya waktu untuk ke sana. Juallah seekor, dan engkau katakan pada majikanmu, biri-biri itu diterkam serigala", Khalifah melanjutkan tawarannya. Maka dengan mata terbelalak, gembala yang tidak mengenal Khalifah 'Umar membentak: "Fa aynaLlah!"
Seorang perempuan mendapatkan sekaleng minuman dibawah timbunan rongsokan, mendatangi seorang Ustadz, bertanyakan apakah halal ia meminum isi kaleng itu. Bayangkan dalam keadaan berhari-hari tidak makan dan tidak minum, seorang penduduk biasa dari "grass root" di Aceh masih teguh istiqamah (konsisten) tentang halal/haram, seperti grass root gembala pada zaman Khalifah 'Umar. Perempuan itu mencerminkan keimanan rakyat kebanyakan di Aceh.
Rakyat Aceh telah puluhan tahun menderita akibat pertikain bersenjata. Isyarat Allah berupa tsunami yang dahsyat itu adalah untuk mengakhiri penderitaan penduduk Aceh yang akhlaqnya dicerminkan oleh perempuan yang diceritakan di atas itu. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang menyelamatkan hambaNya di Aceh, yaitu mati syahid. Mati tenggelam dalam keadaan tidak sedang berbuat maksiyat adalah mati syahid. Maka pesepsi kita harus diubah, yaitu yang selamat dalam tsunami itu adalah mereka yang meninggal dunia. Inilah isyarat Allah yang terpenting yang dapat dipetik dari tsunami itu, yakni Allah menunjukkan sifat Rahman dan RahimNya kepada hambaNya.
Masih ada makna yang lain dari isyarat Allah. Di daerah Krueng Raya yang berada di pantai barat berdiri meunasah (mushalla), An Nur, di mana Taufiq bin Ahmad setiap malam sampai subuh mendirikan Shalat al Layl dengan sujud-sujud panjangnya. Mengajar anak-anak kecil mengaji dari perkampungan pantai dan juga berdakwah. Meunasah sederhana yang terbangun dari papan itu beserta Taufiq bin Ahmad anak-beranak dibawa arus sampai beratus-ratus meter jauhnya. Dari dalam meunasah mereka itu merasakan hantaman ombak tsunami, pusaran air yang menggulung-gulung. Namun meunasah itu tetap tegar berdiri seratus meter jauhnya dari tempat berdirinya semula.
Masih di Kreung Raya, sebuah dayeuh (pesantren) yang berdiri di tepi pantai, Darul Hijrah namanya, masih tetap seperti semula. Dayeuh dengan enam bangunan yang terbuat dari rumah panggung papan itu bahkan tak bergeser sedikit pun. Para santrinya tak kurang suatu apa. Menurut keterangan para santri gelombang tsunami memang menerpa. Namun, tepat di sekitar dayeuh, arus gelombang seakan melemah. Bahkan gelombang seolah terbelah dan membiarkan dayeuh terhindar dari terjangan tsunami. Padahal, tak jauh dari sana, tangki-tangki Pertamina yang berukuran besar, dari besi dengan bobot berton-ton telah porak-poranda.
Meunasah dan dayeuh itu adalah isyarat Allah tentang adanya malaikat yang diutus Allah untuk melindungi meunasah An Nur dan dayeuh Darul Hijrah dari terpaan tsunami. Isyarat Allah itu untuk lebih mempertebal keimanan kita tentang adanya makhluq malaikat, seperti FirmanNya:
-- AMN BALLH WMLaKTH WKTBH WRSLH (S. ALBQRt, 2:285), dibaca: a-mana biLla-hi wamala-ikatihi- wakutubihi- warusulihi- (s. albaqarah), artinya: beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNy a, Kitab-KitabNya dan Rasul-RasuNya. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 30 Januari 2005
[H.Muh.Nur Abdurrahman]

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU

ISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
689. Memorandum of Understanding
The Memorandum of Understanding covers the following topics: governing of Aceh (including a law on the governing of Aceh, political participation, economy, and rule of law), human rights, amnesty and reintegration into society, security arrangements, establishment of the Aceh Monitoring Mission, and dispute settlement. The Government of Indonesia has invited the European Union and a number of ASEAN countries to carry out the tasks of the Aceh Monitoring Mission." (Press Release, Joint statement by the Government of Indonesia and the Free Aceh Movement (GAM), Helsinki, 17 July 2005)
Besok, tanggal 15 Agustus 2005, insya Allah, draft Memorandum of Understanding (MoU) akan ditandatangani di Helsinki. Sejak 27 Januari 2005 dimulailah perundingan informal antara NKRI dengan GAM sampai lima babak yang diakhiri pada tanggal 17 Juli 2005 di Helsinki. Pada hari itu telah diparaf draft MoU oleh ketua Juru Runding RI dan Ketua Juru Runding GAM.
Dengan adanya tsunami 26 Desember 2005, ternyata telah membuka pintu bagi penyelesaian konflik di Aheh. Baiklah kita kutip paragraf terakhir Seri 657, berjudul "Gempa Diikuti Tsunami, Isyarat Allah", bertanggal 2 Januari 2005, seperti berikut:
"Aceh perlu dibangun dari reruntuhan. Sejarah pertikaian politik dan senjata perlu dilupakan. Blok-blok psikologis ditepis, semuanya memfokuskan perhatian pada kerja berat, dan dana yang tidak sedikit sekitar Rp.10 triliun, serta makan waktu yang panjang untuk membangun Aceh kembali. Ya, semuanya, bukan orang Aceh saja tetapi seluruh rakyat Indonesia, rakyat sipil, birokrat, Polri, ABRI dan GAM. Darurat sipil dicabut disertai amnesti umum dan GAM mundur selangkah, menerima kenyataan Otonomi Khusus "Syari'at Islam" di Nanggroe Aceh Darussalam dalam pangkuan Republik Indonesia. Semoga isyarat Allah berupa tsunami itu dapat dihayati dengan baik, sehingga terciptalah damai di Aceh."
AlhamduliLlah, hal yang penting yang patut disyukuri dalam MoU itu ternyata GAM telah mundur selangkah, yaitu menerima kenyataan Otonomi Khusus "Syari'at Islam" di Nanggroe Aceh Darussalam dalam pangkuan Republik Indonesia.
Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat 22 Juli 2005 berkata: Kalau yang menolak MoU Helsinki hanya satu partai artinya 80 persen suara sudah menerima. Jadi selesai. Dan siapa yang tidak ingin damai, silakan ke Aceh sendiri untuk angkat senjata. Wapres rupanya mencium bau-bau tidak enak dari sementara golongan yang tidak senang terhadap MoU yang telah disepakati/diparaf itu.
Dan bau tidak enak itu memperihatkan wajahnya, tatkala Ketua Umum DPP PDIP Megawati menunjukkan sikap negatifnya terhadap Kesepakatan Helsinki yang tertuang dalam MoU tersebut. Hal itu terbongkar ketika Megawati di hadapan peserta kursus reguler Lemhanas angkatan 38 di Gedung Lemhanas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis, 28 juli 2005 telah melambungkan salto penentangannya terhadap MoU yang akan ditanda-tangani besok, insya-Allah, 15 Agusutus 2005 tersebut.
Penentangan PDIP terhadap MoU itu apapun alasannya mengingatkan kita pada waktu mulai diproses UU tentang otonomi khusus Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Baiklah kita kutip dari Seri 474, bertanggal 13 Mei 2001. "PDIP menolak pemberlakuan Syari'at Islam dalam RUU Nanggroe Aceh Darusslam yang kini sedang dibahas dalam Pansus DPR. Demikian ditegaskan Sutjipto, Sekjen yang juga ketua fraksi PDIP di MPR, setelah menghadiri rapat tertutup PDIP yang dipimpin Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. RUU Nanggroe Aceh merupakan salah satu fokus utama pembahasan dalam rapat tertutup itu. Syari'at Islam di bumi Serambi Mekah itu katanya tidak sesuai dengan Pancasila dasar negara dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)." Ada apa sebenarnya antara PDIP dengan Aceh?
***
Walaupun MoU itu belum diumumkan apa isinya, namum tidak dapat tidak dalam hasil kesepakatan Helsinki itu patut diduga tentu ada yang menyangkut masalah amandemen Undang Undang No.18/2001 atau Undang Undang No.31/2002, yaitu tentang hak partisipasi politik secara adil yang salah satunya melalui partai politik lokal di Aceh, maka mau tidak mau pihak DPR harus melakukan amandemen Undang Undang tersebut.
Tampaknya ada kartu kuat yang dimiliki oleh pihak Eksekutif dibanding kartu yang dimiliki pihak Legislatif terutama dari kelompok PDI-P yang menguasai sekitar 109 kursi di DPR ditambah dengan kolaborasinya dari PKB yang menduduki 52 kursi. Apabila harus terjadi sampai pemungutan suara untuk meratifikasi MoU yang ditandatangani 15 Agustus 2005, dan amandemen Undang Undang No.18/2001 atau Undang Undang No.31/2002, maka melihat secara teoritis pihak PDI-P dan PKB akan kalah dalam pemungutan suara. Dan hal ini telah diperhitungkan pihak Eksekutif, sehingga Jusuf Kalla berani menyatakan: Kalau yang menolak hanya satu partai artinya 80 persen suara sudah menerima. Jadi selesai. Dan siapa yang tidak ingin damai, silakan ke Aceh sendiri untuk angkat senjata, seperti yang telah ditulis di atas itu.
Firman Allah:
-- FAaDzA FRGhT FAaNShB . WALY RBK FARGhB (S. ALANSyRAh, 94:7,8), dibaca: faidza- faraghta fanshab . waila- rabbika faraghab, artinya: apabila engkau telah selesai (satu tahap), berupayalah (melanjutkannya) . Dan kepada Maha Pengaturmu berharaplah. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 14 Agustus 2005.
[H.Muh.Nur Abdurrahman

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU

BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
690. Hati Nurani vs Sikap Politik
Firman Allah SWT:
ANMA ALMWaMNWN AKHWt FASHLhWA BYN AKHWYKM WATQWA ALLH L'ALKM TRhMWN (S. ALhJRAT, 49:10), dibaca: innamal mu'muinu-na ikhwatun faslihu- baina akhawaikum wattaquLla-h la'allakum turhamu-m (s. alhujura-t), aerinya: Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka perdamaikanlah di antara dua pihak saudaramau dan taqwalah kepada Allah mudah-mudahan kamu mendapat rahmat.
Dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU), maka itu berarti baik pemerintah RI maupun GAM, telah mampu menerapkan win-win solution di tengah konflik kepentingan, termasuk konflik bersenjata, sosial, politik, atau lainnya. MoU adalah hadiah yang terpenting bagi Ulang Tahun ke-60 Negara Kesatuan Repiblik Indonesia. Namun dari kedua belah pihak ada yang tersendat, ibarat gangguan batu kerikil di dalam sepatu. Dari pihak ex-GAM batu kerikil itu berupa Komite Penyelamat Revolusi, sedangkan dari pihak kita batu kerikil itu brupa "ancaman" dari PDIP yang akan mengajukan Judicial Review MoU ke Mahkamah Konstitusi.
Fraksi yang membentuk Komite itu yang dijuru-bicarai oleh Razali yang kini berada di Malaysia untuk berobat, mengemukakan alasan penolakannya terhadap MoU, yaitu Teungku Hasan di Tiro tidak terlibat langsung dalam perundingan di Helsinki. Itu katanya hanya ulah beberapa perunding GAM saja yang tidak menyampaikan hal yang sebenarnya kepada Teungku Hasan di Tiro yang sedang sakit-sakitan. Namun sinyalemen Komite Penyelamat Revolusi itu dibantah oleh Reyza Zain Sekjen Aceh Center yang juga salah seorang perunding GAM. Menurut Reyza dalam surat elektroniknya pada tgl 18 Agustus kepada Fajar, bahwa sebelum mereka berangkat ke Helsinki mereka ke rumah Wali (maksudnya Teungku Hasan di Tiro-HMNA-), demikian pula sepulang mereka dari Helsinki.
Adapun halnya batu kerikil dari pihak kita, alasan utamanya PDIP katanya banyak yang menabrak undang-undang, utamanya mengenai bendera sebagai simbol wilayah, itu katanya merupakan negara dalam negara. Baiklah, mari kita adakan face to face antara UUD vs MoU dalam konteks bendera ini.
UUD Pasal 18B [Amandemen 3]:
(1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifar khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.
(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.
MoU:
1.1.5 Aceh has the right to use regional symbols including a flag, a crest and a hymn.
1.1.6 Kanun Aceh will be re-established for Aceh respecting the historical traditions
Terjemahan resminya:
1.1.5. Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah termasuk bendera, lambang, dan himne.
1.1.6. Kanun Aceh akan disusun kembali untuk Aceh dengan menghormati tradisi sejarah dan adat istiadat rakyat Aceh serta mencerminkan kebutuhan hukum terkini Aceh.
Apabila apa yang termaktub di atas itu diapresiasi dengan hati nurani dalam suasana kebatinan merasakan penderitaan saudara-saudara kita di tanah Aceh yang dirajam penderitaan puluhan tahun, yang bagaimanapun juga kedamaian adalah keinginan dan cita-cita setiap manusia yang memiliki hati nurani dan iman, maka MoU itu tidaklah melabrak UUD. Akan tetapi jika itu dilihat dengan kaca-mata kesombongan nasionalisme sempit di atas segala-galanya, bahwa simbol wilayah berupa bendera itu merupakan negara dalam negara yang mencederai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dibumbui pula dengan sikap politik beroposisi terhadap apa saja yang dibuat oleh SBY+JK maka niscaya terjadi distorsi pandangan yang miring, yaitu MoU itu melabrak UUD.
Semoga Allah memenangkanlah hati nurani, meredam kesombongan nasionalisme sempit serta sikap politik yang menyebabkan terjadinya distorsi. Semoga Allah menurunkan RahmatNya, sehingga damailah di Nanggroe Aceh Darusalam, amin. WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 21 Agustus 2005.
[H.Muh.Nur Abdurrahman]

WAJIB, SUNAH dan HARAM

Wajib, Sunnah & Haram
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani an-Naqshbandi
www.mevlanasufi. blogspot. com
Bismillah hirRohman nirRohim,
Grandsyeh Abdullah Faiz qs ( wafat 1973) mengatakan bahwa Allah yang Maha Kuasa memberi kita Pancaindra yang sangat berharga dan meminta kita untuk memanfaatkannya sebagaimana yang Dia perintahkan. Ketika kita melakukan yang benar, kita sedang menunggang nafsu kita. Bila tidak, nafsu kita yang sedang menunggangi kita. Kita harus mempunyai kesabaran dalam menjalaninya. Kalau tidak, maka tidaklah mungkin.
Bagaimana kita memanfaatkan Pancaindra kita? Apa ukurannya? Apa kriteria yang kita bisa amati dan kita cermati dari tindakan kita? Untuk setiap tindakan, kalian bisa menemukan tiga cara atau sudut pandang. Yaitu yang disebut Wajib, Sunah, dan Haram. Kami akan menggambarkan istilah-istilah tersebut dengan beberapa contoh:
Tingkatan tertinggi manusia adalah Awlia / Saints, orang-orang suci. Mereka mempunyai didalam mata mereka, Cahaya Ilahiah, Kekuatan Ilahiah, yang membakar habis keburukan dalam diri orang-orang yang mereka lihat. Karena kualitas ilahiah ini, mereka boleh melihat ke mana saja, pada laki-laki dan pada perempuan. Telah diperintahkan kepada mereka untuk melihat. Tak ada larangan bagi mereka. Oleh karena itu penglihatan mereka termasuk penglihatan yang 'wajib.'
Untuk tingkatan yang kedua dari manusia, penglihatan mereka termasuk sunah. Ketika dia melihat seorang gadis cantik dengan cara ini, dia melihat gadis tersebut, sebagaimana ia terlihat dua tahun setelah kematiannya! Dengan cara ini, orang itu bisa mengetahui apa yang sementara dan apa yang tersisa. Dia melihat dan mempelajari, seperti mahasiswa kedokteran yang sedang mengamati jenazah.
Untuk tingkatan ketiga manusia, penglihatan mereka termasuk dilarang - 'haram.' Ini karena mereka selalu hadir bersama nafsu mereka. Semua kekuatan buruk terwujud dalam perbuatan melalui penglihatan mereka. Ini sama tingkatannya seperti seekor keledai ketika melihat kuda betina.
APAKAH MUSIK HARAM DALAM ISLAM ?
Bagaimana musik dalam Islam? Termasuk haramkah?, Kita dilarang mendengarkan musik yang membangkitkan ego, membangkitkan kecintaan pada dunia dan maksiat. Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Bila hati menunjukkan haram, artinya haram!
Beberapa orang, sebaliknya, ketika mereka mendengarkan musik, mereka berubah, melihat ketidaksempurnaan diri mereka. Ini merupakan hal yang aneh, dan dengannya muncul keinginan yang sangat kuat untuk menyempurnakan diri, menyelamatkan diri dari ketidaksempurnaan. Ini termasuk musik Ilahiah, musik khusus. Kita boleh katakan musik ini termasuk 'sunah'.
Ada lagi tingakatan lain dari manusia tertentu, mereka yang harus mendengarkan musik. Seperti Musik Jalaluddin Rumi (q.s.), contohnya, ketika beliau mendengarkan musik, maka hal itu merupakan pembukaan terhadap pengetahuan Ilahiah. Darinya, seseorang dapat mengambil kekuatan demi melindungi umat Muhammad (saw). Ini termasuk musik 'wajib.'
Pada awalnya, tidak ada tindakan yang dilarang. Larangan datang hanya setelah tindakan tersebut mulai menjauhkan kita dari Allah yang Maha Kuasa dan mendekatkan diri kita kepada nafsu kita, ego kita. Ini hukum yang umum. Sebagaimana yang Grandsyeh sampaikan, "Saya memberikan kalian ukuran dan dasar. Sekarang kalian boleh pergi ke mana saja, timur atau barat, dan tidak kehilangan jalan kalian. Dalam setiap tindakan, kalian bisa menemukan 'wajib,' 'sunah,' dan 'haram.' Seseorang pergi ke bar untuk minum; ini termasuk haram. Seorang lagi pergi untuk mencari ilmu; ini termasuk sunah
Wa min Allah at tawfiq
The Teachings of Grandshaykh Abdullah Faiz ad-Daghestani
by Maulana Shaykh Nazim al-Haqqani

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU

BISMILLA-HIRRAHMA- NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
725 Partai Lokal di Aceh
Di Metro TV pada malam Rabu 25 April berlangsung talkshow memperbincangkan Partai Politik Lokal di Aceh. Pembicara dari PDIP mengemukakan sikap politik PDIP yang menyatakan tidak terikat dengan Memorandum of Understanding (MoU) dan menolak pembentukan Partai Politik Lokal. Kalau ditelusuri yang menyangkut Aceh, PDIP selalu menjadi batu sandung dengan sikap politik yang negatif dari PDIP. Marilah kita telusuri:
PDIP menolak pemberlakuan Syari'at Islam dalam RUU Nanggroe Aceh Darusslam yang sedang dibahas dalam Pansus DPR. Demikian ditegaskan Sutjipto, Sekjen yang juga ketua fraksi PDIP di MPR, setelah menghadiri rapat tertutup PDIP yang dipimpin Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. RUU Nanggroe Aceh merupakan salah satu fokus utama pembahasan dalam rapat tertutup itu. [Seri 474, berjudul: Syari'at Islam di Aceh, PDIP Tidak Mendukung, bertanggal 13 Mei 2001]
***
Tak ayal lagi gempa tektonik 150 kilometer sebelah Barat Daya Aceh yang menyebabkan timbulnya tsunami yang menyapu Aceh sebagai front terdepan adalah isyarat Allah SWT yang perlu kita tepekur merenungkan makna isyarat itu. Air mata dan duka menyatukan dan melapangkan dada kedua pihak yang bertikai yaitu Jakarta vs GAM. Aceh perlu dibangun dari reruntuhan. Sejarah pertikaian politik dan senjata perlu dilupakan. Blok-blok psikologis ditepis, semuanya memfokuskan perhatian pada kerja berat, dan dana yang tidak sedikit sekitar Rp.10 triliun, serta makan waktu yang panjang untuk membangun Aceh kembali. Ya, semuanya, bukan orang Aceh saja tetapi seluruh rakyat Indonesia, rakyat sipil, birokrat, Polri, ABRI dan GAM. Darurat sipil dicabut disertai amnesti umum dan GAM mundur selangkah, menerima kenyataan Otonomi Khusus "Syari'at Islam" di Nanggroe Aceh Darussalam dalam pangkuan Republik Indonesia. Semoga isyarat Allah berupa tsunami itu dapat dihayati dengan baik, sehingga terciptalah damai di Aceh. [Seri 657, berjudul: Gempa Diikuti Tsunami, Isyarat Allah bertanggal 2 Januari 2005]
Isyarat Allah ini tidak mampu dihayati oleh para petinggi PDIP.
***
Perundingan RI-GAM memasuki babak baru. Delegasi GAM mulai melunak dengan melepaskan tuntutan merdeka yang dikampanyekan sejak gerakan itu berdiri hampir 30 tahun lalu (kalau tidak salah pada 30 Oktober 1976 GAM dimaklumkan dari Pasi Lokh, Aceh). Dalam perundingan itu GAM menggantikan tuntutan merdeka itu dengan usulan pemerintahan sendiri untuk dioperasionalkan di seluruh kawasan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). [Seri 665, berjudul: GAM Mundur Selangkah, bertanggal 27 Februari 2005]
***
Ketua Umum DPP PDIP Megawati menunjukkan sikap negatifnya terhadap Kesepakatan Helsinki yang tertuang dalam MoU tersebut. Hal itu terbongkar ketika Megawati di hadapan peserta kursus reguler Lemhanas angkatan 38 di Gedung Lemhanas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis, 28 juli 2005 yang telah melambungkan salto penentangannya terhadap MoU tersebut.
Tampaknya ada kartu kuat yang dimiliki oleh pihak Eksekutif dibanding kartu yang dimiliki pihak Legislatif dari kelompok PDIP yang hanya memperoleh sekitar 109 kursi di DPR. Apabila harus terjadi sampai pemungutan suara untuk meratifikasi MoU yang ditandatangani 15 Agustus 2005, dan amandemen Undang Undang No.18/2001 atau Undang Undang No.31/2002, maka melihat secara teoritis pihak PDIP akan kalah dalam pemungutan suara. Dan hal ini niscaya telah diperhitungkan pihak Eksekutif, sehingga Jusuf Kalla pada hari Jumat 22 Juli 2005 berani menyatakan: Kalau yang menolak MoU Helsinki hanya satu partai artinya 80 persen suara sudah menerima. Jadi selesai. [Seri 689, berjudul: Memorandum of Understanding, bertanggal 14 Agustus 2005]
***
Dengan ditandatanganinya MoU, maka itu berarti baik pemerintah RI maupun GAM, telah mampu menerapkan win-win solution di tengah konflik kepentingan, termasuk konflik bersenjata, sosial, politik, atau lainnya. MoU adalah hadiah yang terpenting bagi Ulang Tahun ke-60 Negara Kesatuan Repiblik Indonesia. Namun dari kedua belah pihak ada yang tersendat, ibarat gangguan batu kerikil di dalam sepatu. Dari pihak ex-GAM batu kerikil itu berupa Komite Penyelamat Revolusi, sedangkan dari pihak kita batu kerikil itu brupa "ancaman" dari PDIP yang akan mengajukan Judicial Review MoU ke Mahkamah Konstitusi.
Apabila apa yang termaktub dalam MoU itu diapresiasi dengan hati nurani dalam suasana kebatinan merasakan penderitaan saudara-saudara kita di tanah Aceh yang dirajam penderitaan puluhan tahun, yang bagaimanapun juga kedamaian adalah keinginan dan cita-cita setiap manusia yang memiliki hati nurani dan iman, maka MoU itu tidaklah melabrak UUD. Akan tetapi jika itu dilihat dengan kaca-mata kesombongan nasionalisme sempit di atas segala-galanya, bahwa simbol wilayah berupa bendera itu merupakan negara dalam negara yang mencederai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dibumbui pula dengan sikap politik beroposisi terhadap apa saja yang dibuat oleh SBY+JK maka niscaya terjadi distorsi pandangan yang miring, yaitu MoU itu melabrak UUD. [Seri 690, Berjudul: Hati Nurani vs Sikap Politik, bertanggal 21 Agustus 2005]
***
Nasionalisme sempit yang diberhalakan PDIP, yang menjadi landasan pertimbangan politik, sudah ketinggalan zaman. Mengapa? Karena ikatannya bersifat emosional, yang selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri. Ikatan yang bersifat emosional sangat mudah untuk berubah-ubah, sehingga tidak boleh dijadikan ikatan yang lestari (permanen) di antara satu individu dengan yang lain. Apa yang menjadi perekat yang dapat diandalkan bagi PEREKAT kebangsaan ialah keadilan. Firman Allah:
-- W AQYMWA ALWZN BALQSTH W LA TKHSRWA ALMYZAN (S. ALRHMN, 55:9), dibaca:
-- wa aqi-mul wazna bil qisthi wa la- tukhsarul mi-za-na, artinya:
-- Tegakkanlah timbangan dengan adil (yang terbit dari nurani kamu) dan janganlah kurangi timbangan (waktu membuat penilaian). WaLlahu a'lamu bisshawab.
*** Makassar, 30 April 2006
[H.Muh.Nur Abdurrahman]

KOMPATIOLOGI......?

Vincent Liong answer to cynthapd :

Sdr Cynthapd, anda mencecar saya seperti ini hingga saya terpaksa
membuka apa yang saya tutupi selama ini, meskipun menyakitkan tetapi
saya harus membuka faktanya.

Sejak awal kompatiologi dibuat hingga jadi sampai update versi yang
saat ini digunakan tidak pernah dibuat produk bernama rekon sebagai
penyeimbang dekon. Kata dekon itu sendiri muncul karena beberapa
diantara praktisi kompatiologi yang adalah orang yang suka teori
menganggap ada hubungan antara kompatiologi dengan dekonstruksi.
Awalnya kompatiologi disebut kompatiologi saja bukan
dekon-kompatiologi hingga akhirnya istilah dekon lebih asik digunakan
daripada istilah kompatiologinya sendiri.

Istilah Rekon muncul tiba-tiba dari Leonardo Rimba sahabat saya yang
mengatakan ke saya bahwa ia membuat produk yang mengisi kekurangan
kompatiologi yang bernama rekon. Saya memberi kesempatan kepada mas
Leonardo Rimba untuk memanfaatkan fenomena keingintahuan orang atas
kompatiologi karena saya sudah dua tahun bersahabat dengannya;
meskipun ada keseombongan di sini bahwa Leonardo Rimba tidak pernah
mau terlibat dengan penelitian kompatiologi, juga tidak mau belajar
mendalami kompatiologi sebelum mengatakan membuat penyempurnanya
maunya disejajarkan secara pararel dengan saya. Saya sempat berusaha
menutupi masalah ini karena keinginan saya untuk memberi kesempatan
kepada mas Leonardo Rimba untuk mengembangkan sesuatu dari nol yang
saya tidak tahu bentuknya daripada sekedar melayani ramal-meramal yang
menghibur tetapi tidak mendidik masyarakat.

Saya cukup sedih ketika jalan-jalan ke Solo kemarin baru sadar bahwa
kesempatan yang saya berikan dimanfaatkan untuk menjatuhkan
kompatiologi dengan mempropagandakan ke orang-orang bahwa hasil
kompatiologi itu orang menjadi benar-benar binatang, error,
kompatiologi membahayakan orang-orang dan Vincent Liong tidak pernah
memperbaiki kesalahannya, tulisan-tulisan Vincent Liong juga dibuat
hanya untuk membuat orang menjadi error. Saya mendapat cacimaki
dibentak-bentak secara pribadi dari tiga orang yang pergi bersama kami
dimana Leonardo Rimba yang memanasinya di sepan saya dengan
menjelaskan pribadi saya yang sangat tidak bertanggungjawab terhadap
masyarakat. Saya pasrah saja, sampai hari ini Leonardo Rimba belum
meminta maaf kepada saya malahan mempropagandakan hal-hal yang
sifatnya ideal seperti egoless, ya itu pilihan dia. Rekon sendiri
belum ada metodologi standart-nya (maka dari itu tidak bisa belajar
lalu menjadi pengajar secara massal seperti kompatiologi) selain
inisiasi yang membuat ada rasa berdenyut-denyut di dekat pineal dan
ceramah-ceramah (penanaman keyakinan / believe system tertentu) secara
verbal.

---

Membahas kompatiologi dengan berandai-andai itu susah-susah gampang.
Saya mengatakan bahwa rekon terjadi bukan di proses instalasi tetapi
adalah lanjutan yang secara otomatis terjadi setelah proses yang saat
ini disebut dekon-kompatiologi. Pada proses dekon pun telah
dipersiapkan trigger untuk terjadinya rekonstruksi dengan menyetrakan
mekanisme alat ukur yang diinstalasi pada saat dekon. Maka dari itu
meskipun istilahnya dekon proses rekonstruksi terjadi secara otomatis
mulai saat selesai acara dekon / kompatiologi itu sendiri.

---

Apakan proses "dekon" / "rekon" ini bisa dilakukan pada para pelaku
kriminal supaya mereka bisa menjadi orang baik2?
Jawab: Dalam kompatiologi tidak ada menasehati atau menanamkan fear
tentang dosa, dlsb agar seseorang jadi baik. Yang bisa menjadi baik
atau tidak itu orangnya sendiri. Mekanisme alat ukur yang ditanamkan
saat dekon membuat pelaku mengukur konsekwensi dari setiap pilihan
diantara sekain banyak ranting di pohon faktor pilihan masa depan
kita. Jadi setidaknya if or then nya diketahui tinggal
menimang-nimbang konsekwensi apa yang siap dibayar untuk membeli
konsekwensi yang lain.


Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Kamis, 2 Agustus 2007



Email sebelumnya...
http://tech.groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/2209
--- In Komunikasi_Empati@yahoogroups.com, "cynthapd"
wrote:
>
> Setahu saya tujuan "dekon" dan "rekon" adalah sama2 untuk membentuk
> pribadi yg lebih baik.
> Berikut ini saya akan menyampaikan mengapa istilah "dekon" bisa
> terasa menyeramkan bagi saya :
> Seperti yg telah saya ungkapkan dlm posting sebelumnya, saya
> menggambarkan isi kepala orang yg akan di-dekon / di-rekon sebagai
> buku2 yg ditimbun begitu saja.
> Pada proses "dekon" maka timbunan buku itu akan diruntuhkan dan
> selanjutnya buku2 diletakkan hingga terlihat semua judulnya. Yg saya
> bayangkan timbunan buku itu mula2 berada pada satu sudut ruangan,
> kemudian buku2 diletakkan di lantai ruangan dengan menghadap ke atas
> semua sehingga judulnya mudah terbaca. Dlm proses "dekon" ini
> bagaimana menyusun buku2 tidak diurus, jadi buku2 itu terserak
> dilantai asalkan semua judulnya terbaca berarti proses "dekon" sudah
> selesai. Mengenai bagaimana cara menyusun rapi buku2 itu terserah
> pada pemilik buku. Sedangkan sejak awalnya para pemilik buku memang
> tidak cakap menyusun buku2 itu, maka proses penyusunan selanjutnya
> bisa berakibat macam2 a.l. sbb:
> 1.Orang2 itu berhasil merapikan buku2 itu dengan susunan buku dengan
> terbaca judulnya: ada yg memilah berdasarkan jenis buku, ada yg
> memilah secara alphabet, ada yg menggabungkan kedua cara itu, ada yg
> menyusun di salah satu sisi tembok ruangan, ada yg menggunakan
> keempat sisi tembok ruangan , dlsb…
> 2.Orang2 itu mengambil buku2 dengan judul yg menarik perhatiannya,
> menyusunnya disatu sisi ruangan itu dan menyapu buku2 sisanya ke
> sisi lain ruangan sehingga lagi2 membuat tumpukan yg jauh dari rapi.
> 3.Orang2 itu pusing melihat semua judul2 buku yg dimilikinya, dan
> menyapu semua buku itu ke sudut ruangan membuat timbunan buku yg
> mungkin lebih jelek dari awal.
>
> Dengan demikian maka tujuan untuk membentuk pribadi yg lebih baik
> hanya tercapai pada no.1 saja dan tidak terjadi pada no.2 dan no.3.
> Pada no.2 dan no.3 mungkin saja mereka menjadi pribadi yg bersikap
> lebih buruk dari sebelumnya, karena pada awalnya biarpun memiliki
> tumpukan buku yg tidak beraturan, bentuk itu sebuah konstruksi yg
> belum tentu bermasalah bagi mereka. Kemudian setelah tumpukan itu
> diruntuhkan dan mereka tidak berhasil merekonstruksinya sendiri,
> maka mereka akan membuat tumpukan lagi dlm bentuk sebuah konstruksi
> yg berbeda dengan tumpukan semula dan kontruksi ini bisa menjadi
> lebih buruk dan bermasalah bagi dirinya.Apabila para pen-dekon tidak
> membantu para klien-nya untuk merekonstruksi, maka artinya para pen-
> dekon tidak peduli apa akibat proses "dekon" ini. Hal ini yg
> terlihat menyeramkan bagi saya, karena proses "dekon" bukan sekedar
> ttg tumpukan buku, tetapi ttg suatu konstruksi memory manusia.
>
> Sedangkan dalam proses "rekon" semua buku ditata dengan rapi,
> sehingga si pemilik tidak perlu pusing2 lagi menyusun konstruksi
> baru. Mungkin saja proses "rekon" akan membentuk orang yg terlihat
> berkepribadian serupa, tetapi biar bagaimanapun juga tidak pernah
> akan sama, karena meskipun susunannya serupa, isi bacaan tiap orang
> tetap berbeda2.
>
> Sebetulnya saya bertanya2 apakan proses "dekon" / "rekon" ini bisa
> dilakukan pada para pelaku kriminal supaya mereka bisa menjadi orang
> baik2?
>
> Cyntha

Pikiran dan Realita

Tulisan di bawah ini adalah balasan untuk email:
Subject: Re: Pikiran dan Realita ; ditulis oleh:
Vincent Liong (untuk: Armahedi Mahzar)
From: Armahedi Mahzar
Thu Aug 2, 2007 10:46 pm
e-link:
http://groups. yahoo.com/ group/Komunikasi _Empati/message/ 2216

Email tsb terlampir di bawah email ini.

(Note: VL=Vincent Liong , AM= Armahedi Mahzar)

AM: Jadi output orang (teori sebagai kumpulan
kata-kata) saya jadikan input. Kita juga menggunakan
fuzzy logic untuk karya tulis orang. Misalnya "bagus"
dan "jelek" itu kan juga fuzzy. Mungkin karena induksi
fuzziness dari perasaan.

Well. Semua orang bisa punya teori untuk itu, seperti
halnya setiap orang punya skema untuk perasaannya.

VL: Bagus atau jelek adalah judgement (linear logic)
bukan fuzzy karena sifatnya bioptional (tinggi-rendah)
dan sudah menyentuh penilaian pribadi atau
standarisasi yang dibuat sekelompok orang seperti alat
test.

Apa yang disebut fuzzy masih berupa data mentah(non
verbal) karena sifatnya yang relatif baik dalam range
diri sendiri, kelompok maupun general. Misalnya: Buku
tsb bila dinilai dengan asosiasi warna adalah merah
kekuningan. Bila asosisasi rasa adalah manis kecut.
Untuk menjadi judgement kongkrit dengan bahsa yang
verbal maka dibutuhkan translater yang hanya berlaku
di orang tsb dan dibuat digunakan lalu didelete saat
itu saja (tidak berlaku tetap/permanent) .

Orang tidak perlu belajar untuk membuat dan menilai
judgement (linear logic) tetapi orang perlu belajar
membaca data sebelum data tsb di-judgement (ketika
data masih murni belum terdistorsi bahasa,
sudutpandang, dlsb) baik data di dalam dirinya sendiri
maupun di luar diri sendiri.

AM: Itu artinya setiap orang mempunyai "teori
personal" untuk mengkodekan korelasi antara dua indra
(indra kecap untuk minuman, indra enteroseptif untuk
tubuh). Itulah yang anda maksudkan dan saya tidak
keberatan dengan itu. Yang ingin saya tambahkan adalah
bahwa "teori personal" itu umumnya bersifat asosiatif.
Jika yang dikorelasikan adalah kumpulan indra (yang
biasanya disbut persepsi) maka yang digunakan adalah
kata-kata kongkret yang disepakati bersama. Pada level
kaum primitif kata-kata itu dirangkai dalam suatu
cerita pusaka yang diceritakan
turun temurun.

Cerita pusaka itulah yang disebut mitos. Claude
Levi-Strauss membongkar oposisi biner yang disimpan
dalam mitos-mitos tersebut. Saya membongkar oposisi
biner yang terkandung dalam filsafat-filsafat orang
Barat modern. Tak disangka-sangka elemen-elemen dasar
filosofis orang Barat itu menyusun dirinya sendiri
dalam satu skema yang saya sebut sebagai integralitas
atau
realitas integral (mungkin sama dengan *.*.*.* dalam
terminologi Anda).

VL: Mitos adalah satu level proses di atas fuzzy yang
sudah lebih linear karena sudah ada percampuran data
dengan diri pribadi entah itu faktor individual
seperti misalnya sudutpandang, perasaan, judgement
pribadi, atau faktor kelompok seperti misalnya bahasa,
budaya, alam sekitar, dlsb.

Dalam kondisi sebelum masuk ke data linear tadi baik
faktor-faktor diri sendiri, faktor di luar diri
sendiri, data yang dihadapi, dlsb memiliki derajat
yang sama sebagai data dan berdiri sendiri-sendiri
secara independent. Baru pada tahap pemerosesan data
agar lebih linear (lebih kongkrit) data itu dikawinkan
dan diberi hirarki.

Memang proses dekon di tahap membaca posisi pada
skala-skala dalam range badan bersifat asosiatif
tetapi judgementnya pun judgement asosiatif, tiap
skala yang digunakan masih skala asosiatif. Judgement
asosiatif misalnya: Dalam kondisi tertentu dari range
seluruh tubuh di skala perut lalu bergerak ke punggung
lalu mengalir ke tangan seperti pegal untuk dekon hari
tsb rules itu yg berlaku tetapi skala tsb timbul
karena pada tahap menyusun sample untuk membentuki
penggaris ukurnya judgement asosiatif tsb disusun.

Skala-skala asosiatif dengan range yang asosiatif
disusun saat menginput penggaris ukur, judgement
asosiatif ketika menilai data dengan skala asosiatif.
Range asosiatif juga bisa diubah misalnya: 100% badan
dari kepala sampai kaki, atau 50% badan dari telapak
kaki sampai pinggang, atau kepala saja, dlsb. Jadi
diri pribadi sebagai alat ukur tidak memiliki
kecenderungan judgement yang tetap. Ketepatan saat
judgement dicapai akibat kerja pararel dari proses
penyusunan range dan skala-skalanya, juga bahasa
kontekstual yang digunakan, yang masing-masing
memiliki kalibrasi sendiri-sendiri.

Nah, hal-hal semacam ini tidak bisa dibahas bila
dilakukan hanya di tahap pemikiran karena efeknya yang
terjadi bukan memahami hal tsb tetapi mensugesti diri
dan membaca sugesti, mau tidak mau harus lari ke
eksperimen yang lebih fisikal untuk memahaminya dengan
input yang secara langsung mempengaruhi fisikal
biologis juga seperti makan dan minum.

AM: Saya menangkap bahwa anda menganggap saya tidak
mengerti kompatiologi. Mungkin anda benar jika yang
dimaksud dengan mengerti adalah mengerti secara
ilmiah. Mungkin saja bisa dijelaskan dengan RAS
seperti yang dilakukan oleh mang Iyus, atau dengan
Memori seperti yang dilakukan oleh mbak Istiani. Atau
dengan pineal gland seperti yang dipahami oleh mas
Leo. Secara fisika saya tidak bisa menerima
teori-teori itu tanpa mengidentifikasi medium untuk
menyalurkan apapun namanya dari satu otak ke otak yang
lain. Mas Leo bicara energi tapi energinya energi apa,
soalnya di fisika tidak dikenal konsep energi negatif
kecuali relatif terhadap energi pada satu tempat. Saya
sih punya teori sendiri tentang medium itu, tapi
lupakanlah teori-teori ilmiah itu, seperti yang anda
lakukan.

VL: Kurang dari 5% dari seluruh pengajar kompatiologi
(baik murid saya, muridnya murid saya atau cucu, buyut
murid saya) yang mau membaca tulisan-tulisan saya,
tulisan Juswan Setyawan, Cornelia Istiani, Leonardo
Rimba, dlsb. Semakin anda merasa ngerti teorinya tanpa
menjalani praktikalnya maka anda hanya semakin
mensugesti diri anda berandai-andai di imajinasi anda
sendiri yang semakin hari semakin jauh dari realitanya
yang lebih simple dan praktis jika dijalani saja tanpa
pre-judgement. Praktisi kompatiologi yang terlalu
serius membaca tulisan-tulisan tsb dan meyakininya
biasanya mengalami hambatan berupa penundaan
penguasaan penerapannya dalam proses pasca-dekon
antara 1-3 bulan, karena ketika pre-judgement beradu
dengan apa yang dialami maka ini semua tergantung
keikhlasan orang tsb untuk melepas pre-judgementnya.
Maka dari itu saya juga mengatakan bahwa akan lebih
sulit bagi yang ikut rekon-nya mas Leonardo Rimba
untuk mempelajari dekon, tetapi yang telah ikut dekon
rata-rata tidak ada keinginan untuk mau belajar
apa-apa lagi termasuk rekon.

Maka dari itu tiap pengajar kompatiologi rata-rata
membuat pengembangan teori sendiri dengan bahasa,
sudutpandang dan definisi sendiri-sendiri sesuai
bahasa dan kepentingan target jenis market yang ingin
dicapai.

Misalnya: Dade yang target marketnya lebih traditional
minded malah membakas kompatiologi dalam konteks
Al-Quran. Rio Panjaitan tentu membahasnya dalam
hubungan dengan Aikido dan budaya Bushido dengan
pengaruh budya hormat-menghormati yang masih kuat.
Vincent Liong suka membahas dalam hubungan dengan
eksistensi diri dan mengakali keterbatasan resourch.
Group-nya Arry, Onny Lewis, Andre, dlsb lebih suka
membahas yangh praktis-praktis aja malahan hampir
tidak ada teorinya.

Kalau anda menanyakan soal RAS semua bilang: “Emang gw
pikirin“. Toh yang penting klien gw mampu menggunakan
yang dipelajari untuk membantunya dalam hubungan
dengan keluarga, pertemanan dan pekerjaan lalu melapor
bagaimana cara dirinya masing-masing dalam
menjalaninya khan sudah lebih dari cukup.

Saya terpaksa membahas teoritis seperti ini karena
saya menghadapi anda yang teoritisi yang menganggap
cukup dengan sugesti perasaan mengerti dan menguasai
model orang kuliah dapat ijasah saja lebih penting
daripada mengerti praktik.

AM: Sayangnya (nggak perlu disayangkan sih, karena tak
bisa dihindarkan bahwa setiap penjelasan memerlukan
metafor) anda menggunakan metafor komputer untuk
menjelaskan fenomena komunikasi empati yang ada
temukan itu. Sampler, translater dan Operating Sistem
adalah istilah-istilah yang sering anda gunakan. Buat
orang yang bekerja di bidang komputer mungkin
istilah-istilah anda kurang nyambung. Mungkin kalau
diganti dengan programmer, program dan OS akan lebih
nyambung. Dengan peristilahan baru ini, barang kali
metafornya bisa diganti-ganti dengan metafor-metafor
yang lebih nyambung buat orang awam. Misalnya saja
metafor komputer diganti dengan metafor mobil.
Programmer diganti sopir, Program diganti setir, OS
diganti mesin. Jadi sampler-translater- OS atau
programmer-program- OS bisa diganti supir-setir- mesin.
Bahkan bisa diganti dengan metafor bendi dengan
kusir-kekang- kuda buat orang yang kurang familiar
dengan mobil.

VL: Saya menggunakan kata-kata karena anda bukan orang
lapangan sehingga maunya juga komunikasi kata-kata
saja yang memiliki keterbatasan sebagai alat penyampai
informasi, jadi saya tidak ada pilihan lain selain
terpaksa bermain kata-kata juga.

OS itu range-nya terlalu luas.Memang kompatiologi itu
OS tetapi tidak bisa dengan emngatakan begitu saja
akan terlalu menyederhanakan. Kompatiologi jelas bukan
program karena program memiliki pola if or then yang
dibakukan. Kalau model kuliah resmi misalnya di
psikologi, ilmu ini, ilmu itu, dlsb itu memang
berbentuk program karena orang hanya bisa memilih
program yang ada dan menggunakannya tanpa tahu proses
dan reasoning dalam pembuatannya. Kalau pendekon
sebagai programmer ya bisa nyambung tetapi tugasnya
bukan memerogram karena program memiliki keterbatasan
yaitu memiliki pola if or then yang dibakukan. Maka
dari itu kadang saya pakai istilah penginstalasian OS
karena OS itu cukup luas pilihan dan pola if or then
nya tidak seterbatas program. Tetapi tetap saja ini
semua hanya cocok untuk iklan, tetap tidak mewakili
karena realita itu konpleks kalau dibahas tetapi
simple kalau dialami.

AM: Saya sendiri sih lebih suka pakai istilah
filosofis intuisi-inteligensi -insting. (Mungkin kalau
bahasa ilmiah integrasi itu antara pineal gland yang
intuitif, cerebral cortex yang logis dan limbic system
dan RAS yang pra-logis). Bagi saya fenomena komunikasi
empati justru menjelaskan adanya integrasi ketiga
fungsi kognitif manusia secara personal. Obsesi saya
adalah mentransfer integrasi personal (yang anda sebut
kompatiologi) itu menjadi integrasi kolektif melalui
integrasi humaniora-sains- teknologi. Jadi model
integrasi kompatiologis personal itu kemungkinan besar
bisa diluaskan menjadi model integrasi integralistik
peradaban. Yang jadi persoalannya adalah mencari
metodologi kolektivasi kompatiologi itu. Itulah
sebabnya saya masuk milis anda ini. Mungkin ada
peserta milis yang bisa berkontribusi memecahkan
persoalan penting ini demi keselamatan umat manusia
seluruhnya di masa depan. (Sorry, saya sering disebut
menderita Messiah Complex syndrome sih).

VL: Masalahnya tidak ada lembaga atau perusahaan yang
mau karyawannya di-install kompatiologi. Sebab bila
pemahaman akan posisi diri dan posisi di luar diri
muncul maka orang tidak bisa ditekan lagi dengan
pekerjaan menumpuk dan gaji yang rendah dengan alasan
keyakinan tentang teori-teori kemapanan seperti
misalnya: Sudah untung anda dapat kerja sehingga harus
mempertahankan di tempat yang sama sampai tua.

Program-program psikologi industri dan berbagai macam
training dibuat untuk menguntungkan perushaan bukan
menguntungkan pribadi karyawan. Maka dari itu biasa
yang minta itu ownernya perusahaan sambil wanti-wanti
ke saya agar jangan sampai karyawannya ada yang ikut.

Di salahsatu kasus: Tiga orang klien kompatiologi di
Solo adalah tiga orang yang menjalankan bisnis
internet provider yang bersaing cukup keras satu sama
lain. Mereka sama-sama belajar kompatiologi ketika
kunjungan saya ke Solo dan Jogja 3 bulan yang lalu.
Ketika saya mengunjungi mereka untuk mentanyakan
result mereka, rupanya yang terjadi adalah mereka
berdua meski tetap di perusahaan sendiri-sendiri lebih
memilih bekerjasama dalam proyek pemerintah yang lebih
besar yang dimana sama-sama untung. Ketika seseorang
menemukan bahwa saingan mereka cukup lihai dan punya
ilmu yang sama, daripada bertarung sama-sama rugi
lebih baik saling membuat kesepakatan tidak tertulis
dan kesepakatan emosi yang diam-diam agar sama-sama
untung dalam menghadapi banyak saingan lain yang lebih
luas yang tidak memiliki skill yang mereka punyai.
Mereka tetap tidak 100% percaya sama lain karena
kepentingan tetap saja sendiri-sendiri, tetapi ada
kesepakatan diam-diam yang mengkaitkan mereka sehingga
bersahabat.

AM: Begitu Loh mas. Jadi nggak usah mencoba meyakinkan
saya akan kebenaran dan keunggulan kompatiologi
dibandingkan produk-produk pikiran yang lain seperti
sains dan filsafat. Kebenaran? Saya sudah dipersuasi
oleh laporan-laporan para terdekon. Keunggulan? Itu
mah nggak usah diurai-urai dengan kata-kata.

Terima kasih penjelasan kompatiologi nya, meskipun itu
sudah saya baca dari artikel-artikel mas yang biasanya
dijadikan komponen bom imel. Whatever, terimakasihnya
masih tetap. Saya hanya berdoa agar mas bisa mendobrak
dinding penjara yang bernama kompatiologi (bukan
fenomena komunikasi empati, tapi teorinya) dan meraih
pesoalan kolektif manusia yang lebih luas seperti
ketidak-adilan global, kepicikan mental
fundamentalisme, kerusakan lingkungan hidup,
keterpecahan masyarakat dan lain sebagainya.

VL: Saya orang yang menganut paradigma bahwa orang
boleh baik asal tahu konsekwensi dan secara ikhlas
bersedia membayarnya, orang juga boleh jahat, boleh
curang, boleh melakukan apapun asal resiko yang harus
dibayar diperhitungkan dulu. Bagaimanapun jahatnya
manusia itu tetap berpikir aman bukan berpikir mau
menang tetapi bisa kalah sehingga tidak ada kemapanan
yang terjamin.

Permasalahan dari pendidikan, agama, termasuk filsafat
yang berbasis keyakinan akan kebenaran adalah: Ok, di
saat ini seseorang misalnya menggunakan bahasa
kontekstual yang diberi semangat: “menentang
korupsi!!” secara menggebu-gebu (agak anarkis), itu
karena mereka belum punya kesempatan yang sama saja
(sadar-tidak- sadar). Tetapi coba lihat ketika mereka
berhasil menggulingkan penguasa, lalu mereka
menggantikan kesusukan si penguasa yang kejam, kok
mereka tidak berprilaku seperti yang mereka
perjuangkan dengan anarkis seperti saat mereka belum
jadi penguasa.

Masalahnya adalah mereka bisa dengan mudah membuat
judgement tetapi mereka tidak punya kemampuan untuk
mengukur diri sendiri, orang lain, dlsb. Mereka tidak
mampu mengukur pola if or then diri sendiri dan orang
lain. Tetap saja yang benar-benar jadi pelaku bukanlah
ahli teori, yang menjadi perlaku adalah mereka yang
bertindak tanpa perlu banyak idealisme, melainkan
kesadaran akan konsekwensi, diri sendiri dan di luar
diri sendiri. Sebab keyakinan itu sama seperti sugesti
yang tidak memiliki pola sebab akibat yang kongkrit;
anda bisa membuat output bahkan tanpa input apa-apa.

Pendidikan, agama, dlsb itu belajar bahasa kontekstual
dan aturan main di dalamnya tetapi untuk belajar
menjalaninya harus meninggalkan teori untuk turun ke
lapangan menjadi pelaku dan menyadari konsekwensi yang
harus dibayar.

Kompatiologi tidak menjual teori, maka dari itu saya
belum mengumpulkan tulisan-tulisan ini untuk dibukukan
hingga hari ini. Juswan Setyawan dulu menulis sekian
banyak tulisan soal Kompatiologi (hingga 250an halaman
A4 spasi 1) dan akhirnya didiamkan saja tidak dibaca
juga tidak dicetak. Yang kami jual adalah skill, yang
kami jual adalah karya seni dari masing-masing
pengajar kompatiologi yaitu: Bagaimana result
murid-murid kami di dunia nyata?! Apakah mereka
terbantu dengan ilmu yang mereka beli atau tidak.
Karya seni dijual berdasarkan keaslian dan proses
pembuatannya yang personal, bukan sekedar keindahan
foto berdurasi tinggi tetapi dengan mudah dicetak di
studio foto terdekat di kota anda yang dijalankan oleh
mesin standart pabrik yang diawasi oleh petugas.

Orang mungkin berhasil merusak image kompatiologi di
kalangan teoritisi tetapi tidak di kalangan pelaku
yang membutuhkannya untuk dipraktikkan di ruang
praktikal. Bagi kami tidak menjadi masalah karena
target kami bukan teoritisi yang takut praktik.

Ttd,
Vincent Liong
Jakarta, Jumat, 3 Agustus 2007

Email sebelumnya.. .
Subject: Re: Pikiran dan Realita ; ditulis oleh:
Vincent Liong (untuk: Armahedi Mahzar)
From: Armahedi Mahzar
Thu Aug 2, 2007 10:46 pm
e-link:
http://groups. yahoo.com/ group/Komunikasi _Empati/message/ 2216

Just Posting dari milis vincentlinong

"INI ADALAH DIALOG YANG LUCU DAN BODOH"


Saya setuju dengan Mas Sunari,
Percuma saya beragama kalau masih makan keringat orang lain
Percuma saya beragama kalau masih iri dan dengki terhadap orang lain
Percuma saya beragama kalau masih....... .........
Agama hanya ada di dunia
Di mata sang khalik kita semua sama
Apakah kita yakin akan diterima di sisi kanan Nya?
Karena kebaikan kita?
Karena keyakinan kita?
Karena...... .......
Hanya Dia yang bisa menentukan, sebaik apapun kita.
Salam
On 8/2/07, Sunari wrote:

Pak Toha..
Saya tidak menafikan EFEK yang dapat timbul dari sikap DIAM yang di sampaikan oleh sohabat Ali, yang diriwayatkan sebagai PINTU ILMU (?) atau Gudang Ilmu (?).., Namun namanya ya interaksi sosial, ada berbagai situasi atau kondisi yang berbeda-benda. Untuk mencapai sesuatu tujuan.. yang dalam hal ini agar dia 'terbunuh' tidak harus selalu tepat atau mutlak kudu dengan sikap diam.
Salah satu contohnya adalah, memberitahu dia seperti ini..
Wahai saudaraku adik/abang/bapak si Nabi Baru..
Tahukah kamu bahwa apa yang kamu lakukan itu, walaupun memakai nama samaranpun..
Akan kembali kepada kamu, kembali sebagai apa?.. ketika saya katakan ini ;
Orang yang BIJAK, orang yang PANDAI, orang yang BERAKAL BUDI..
Ketika dia mempelajari sesuatu.. contohnya ; kamu belajar agama Islam.. dapat diibaratkan. . secara ekstrim seperti orang yang mencari cari dalam sesuatu.. yang dalam hal ini kamu anggap kotor .. bagaikan tempat sampah.. disitu kamu bukan mencari hal yang paling baik diantara yang kamu anggap busuk dan menjijikkan. . namun yang kamu cari adalah malah justru yang paling busuk yang paling menjijikkan. . untuk kamu kumpulkan.. kamu bawa pulang dalam RUMAH FIKIRANmu, RUMAH JIWAMU.. kamu pengumpul barang-barang yang paling buruk.. untuk diletakkan dalam 'alam semesta' diri mu.. Pemulung di tempat pembuangan sampah jauh lebih baik darimu, dia BIJAK, tahu mana yang dapat memberi manfaat bagi diri dan keluarganya. . walaupun dia setiap hari hidup diantara benda yang kotor dan menjijikkan. . dia tahu harus mengumpulkan mana-2 yang baik dan berguna. Sebuah pilihan jalan kehidupan yang sama sekali berlawanan dengan yang SAAT ini kamu tempuh, mengotori diri sendiri dengan hal yang paling buruk. Konsekuensi logisnya ; rasa kebencian.., rasa permusuhan.. 'dekat' dan.. kalau ini terjadi.. waduh kasihan.. sifat-sifat itu telah MENGASIMILASI sifat dan karakter kamu. Padahal sejatinya kita itu sama, dicipta dalam kemuliaan, dalam kemurnian, dalam kesucian.. itu lah sifat-sifat asli kita semua.. kamu campakkan kemana semua HARTA yang ternilai itu saudaraku si Nabi Baru?
Seandainya bila yang kamu kumpulkan adalah hal-hal yang baik, hal-hal yang mulia.. alangkah baiknya.. mungkin kamu sudah memiliki permata-permata dalam gudang pribadi batinmu.
Ada dikatakan ; manusia ibarat kendi/pasu, air jenis apa yang dimasukkan kedalamnya.. . maka air jenis itu pula yang dapat keluar dari padanya.
Mumpung masih ada kesempatan, silahkan merenungi jalan apa yang telah kita tempuh selama ini. Semua orang bijak mengatakan ; betapa berharganya kehidupan ini, sebuah kesempatan untuk mengubah jiwa karbon kita.. menjadi sekedar batu bara atau menjadi intan, kita lalui sekedar kita lalui atau kita tempa jiwa melalui jalan rohani manapun yang kita merasa cocok..
Jadi, silahkan ya dik/bang/pak Nabi Baru.., lihatlah diri anda sendiri, instrospeksi ke dalam diri sendiri, kedepan hayo lalui dan tempuh jalan kehidupan yang akan dapat meningkatkan kualitas kemanusiaan kita.. baru kita akan dapat menjadi sosok yang lebih baik daripada saat yang lalu, saat yang ini, bukan lagi sebagaimana yang terefleksi dari postingan kamu itu.. janganlah menjadi anak/representatif kegelapan, jadilah anak terang.. yang menerangi siapapun yang berelasi dengan kamu.. tidak peduli apapun latar belakangnya.
Dua postingan di paling akhir, bila mau membacanya, barangkali akan dapat mengubah pola fikir anda tentang apa dan bagaimana agama itu pada awalnya. Bagi saya ; agama, kepercayaan atau jalan rohani apapun (yang lurus) pada hakekatnya adalah JALAN KEMULIAAN, yang berbeda adalah tujuan dan metode bagaimana tujuan itu akan dicapai.
Salam,
Sunar-i
~~~
Posted by: "Toha al-Jufry" tohatoha@gmail. com expertoha
Wed Aug 1, 2007 9:56 pm (PST)
buat anda-anda semuanya, saya sampaikan nasehat Imam Ali bin Abi Thalib A.S.
berikut ini:

"Diamlah dari tipu daya orang hasut, sesungguhnya DIAMmu adalah pembunuhnya.
Bagaikan api, bila tidak ada sesuatu yang bisa dia bakar, maka api akan
membakar dirinya sendiri hingga padam". - Imam Ali A.S.

On 8/1/07, nabi baru wrote:
> 17 ALASAN KENAPA KAMI MENINGGALKAN ISLAM
>
> 1. Allah bukan Tuhan
> Jika ada yang bilang allah artinya Tuhan, maka tolaklah.
> Jika kita mengikuti jalan pikiran muslim, 'Allah' artinya "Sang Tuhan."
> Meski begitu ucapan la ila ha illalah telah membuat kata "allah" bukan
> lagi berarti "sang tuhan" melainkan sudah berarti "tuhan yang itu."
> Buktinya jika kita terjemahkan kata la ila ha illah maka artinya "tiada
> tuhan selain sang tuhan". kalimat ini masih aneh. Tuhan dan sang tuhan jika
> dibuat dalam ucapan itu kan sama saja. Ucapan ini janggal jika diartikan
> begitu. Karena itulah arti sebenarnya dari allah adalah: <>
~~~
[1/2] Posted by: "Den Mas Bagus Dhika", Mon Jul 30, 2007 9:56 pm (PST)
Subject: Re:Percakapan 2 Manusia Bodoh
Saat sedang berbincang dengan seorang sahabat kusisipkan satu pertanyaan padanya.

dimas : Ton, bisa jelaskan ke saya gak, akan arti agama?
tono : Hmmm..., agama tuh sarana untuk memandu manusia menuju kebaikan. [1]
dimas : tapi mengapa, banyak manusia beragama yang justru berbuat kejahatan? [2]
tono : yah... mungkin mereka gak memanfaatkan sarana itu, sarana nya disimpan dirumah dan untuk menggapai tujuannya, mereka berjalan kaki tanpa panduan...
trus kesasar deh... hehehe... [3]
dimas : hahaha... trus sebenarnya mana yang lebih penting, Agama atau kebaikan itu sendiri? [4]
tono : Aaahhhh...., gue pusing. Gue jalan dulu yah..!
ngejar setoran nih, nemenin elu ngomong bisa-bisa anak istri gue gak makan.... [5]

Saudaraku adakah yang bisa membantu memberikan bekal mutiara pencerahan, berkenaan dengan percakapan dua manusia bodoh diatas....?

yang menanti,
dimas
[2/2] From: Sunari To: BECEKA milis ; SEMEDI milis Cc:-- Sent: Tuesday, July 31, 2007 4:34 PM
Subject: Re:Percakapan 2 Manusia Bodoh ++ Basmalah & Assalamu 'alaikum
Saudaraku Den Mas Bagus..
Perkenankanlah saya ikut mennyumbangkan apa yang saya fahami
Dalam pembicaraan yang Den Mas Bagus sampaikan tersebut, agaknya kedua orang sama-sama memaknai AGAMA sebagai SARANA untuk memandu manusia menuju kebajikan. [1]
Dengan disebut seperti itu belum 100% benar, namun miturut saya.. agama BUKAN HANYA sebuah panduan untuk hidup berkebajikan, namun lebih luas daripada itu. Pada mulanya AGAMA adalah dimaksudkan sebagai JALAN MEMBINA DIRI, sebuah BHAVANA(?), sebuah metode kultivasi jiwa, sebuah jalan xiulian. [4]
Kenapa perlu membina diri, kenapa perlu melatih batin?
Agar pada diri praktisi yang melaksanakannya dapat terjadi transformasi BATIN, atau transformasi JIWA
Karena kalau manusia hidup didunia hanya memakai standar moralitas yang berlaku diantara sesama manusia, tanpa ada transformasi yang FUNDAMENTAL. . setelah kematian dia tidak akan dapat, tidak akan layak untuk dapat kembali ke tempat dimana dia pertama kali diciptakan. Yaitu alam yang luhur, yang lebih luhur dan yang lebih luhur. Semua pemimpin agama, semua tokoh spiritual adalah sosok sosok berkepribadian agung dan mulia, tanpa identitas kemuliaan pada dirinya maka itu hanya sosok-sosok yang dapat menyesatkan manusia.
Tidak peduli jalan rohani apapun, tidak peduli jalan kepercayaan apapun, tidak peduli agama apapun.. yang dipakai, dengan TANPA adanya transformasi diri, hasil yang akan didapat.. akan jauh dari standard utama dari jalan yang dipilih itu.
Dengan asumsi bahwa Den Mas Bagus adalah seorang islam, saya dapat memberi contoh sebagai berikut.. mengesampingkan hal penguasaan ilmu, mengesampingkan ketekunan dalam beribadah, mengesampingkan perbuatan-2 bajik yang telah dilakukan.. seorang "PRAKTISI" muslim yang ideal harus merupakan REPRESENTATIF dari Tuhan Yang Maha KASIH -- SAYANG. Sebagaimana para jumhur ulama yang menyampaikan bahwa sesungguhnya hakeqotul muhammadiyah, alias hakekat ajaran dari kanjeng nabi muhammad yang terhimpun dalam enam ribu ayat dan terserak dalam puluh ribu hadist -- dapat diringkas dalam pejaran ke-1, ayat ke-1 dalam al quran; kalimat basmallah. Seorang praktisi islam yang sejati harus menjadi rahmatan li alamin, rahmat bagi alam semesta. Alam semesta bo.. opo main-main, tanpa itu.. Kemanapun, dimanapun, ketemu siapapun harus bersikap yang SELARAS dengan kalimat Assalamu 'alaikum yang diucapkannya ; Salam Sejahtera, Rahmat dan BERKAH ALLAH semoga tercurah kepadamu... wahai para... saudaraku, sahabatku, tetanggaku, bangsaku.
Tentang hal melatih batin, membinadiri, mengkultivasi watak dan jiwa, contoh ; (a) memandang hambar (tidak menomor satukan, tidak membebani diri, menghambakan diri) kepada kehidupan dunia, memandang kehidupan akherat lebih penting dan utama. (b) menghilangkan sifat-sifat buruk ; kebencian, kecemburuan, tamak, mau menang sendiri, ...dsl (c) memupuk sifat-sifat mulia (bukan sekedar "baik") ; sabar, pemaaf, bertindak apapun atas dasar kasih,.. dls.
Tanpa adanya "TEKANAN yang DAHSYAT" yang terus-menerus dan berkelanjutan, "CARBON" diri ini tidak akan pernah menjadi "PERMATA/INTAN". Usaha yang terus menerus dan berkelanjutan dalam mengikis hal-hal buruk dan memupuk hal-hal baik dalam diri inilah.. tujuan agama. Ada kalimat pengajaran dalam Islam ; "berlomba lombalah dalam kebajikan.. namun sebaik-baik diantara manusia adalah yang paling bertakwa". Ini kalau versi Islam. Versi yang lain semisal ; racut.. dan semakin racutlah kemanusiaan ['biasa']-mu, jadilah semakin ilahi hari demi hari, sehingga akhirnya tidak ada lagi sisi yang semula dan berubah menjadi sisi yang dituju.
Jadi AGAMA adalah sebuah metode XIULIAN, sebuah jalan untuk mengkultivasi watak dan mentransformasi jiwa.
Adanya orang beragama namun berbuat kejahatan? [2]
Itu artinya agama masih "diluar" dirinya, dirinya belum BERASIMILASI dengan ajaran kemuliaan yang dianut, yang pilih sebagai jalan keselamatan.
Ini adalah PASTI.
Pasti karena kebodohan, kegelapan batin dan kegagalan dalam kultivasi.
Karena justru kebanyakan manusia TIDAK SADAR bahwa AGAMA, kepercayaan, jalan rohani.. adalan JALAN PEMBINAAN DIRI. [3]
Bukti bahwa orang tidak menyadari bahwa agama adalah jalan pembinaan diri dan sarana transformasi batin adalah ; KETIADAAN USAHA, KETIADAAN PERJUANGAN untuk menjadi semakin baik dari hari ke hari sesuai ajaran.
Terakhir, dialog penutup tentang betapa repotnya hal mengurusi pemenuhan kebutuhan. [5]
Agama, atau jalan pembinaan diri adalah HAL YANG SERIUS, bukan hal yang 'sambil-lalu', iseng-iseng, suatu hal yang hanya akan ditempuh oleh mereka yang memiliki tingkat kesadaran (wuxing) yang baik. Orang yang terlalu disibukkan oleh urusan duniawi (baik yang miskin maupun yang kaya), relatif akan mengalami halangan yang lebih berat untuk dapat berbuat yang terbaik. Walaupun tentu sama sekali tidak mutlak. Sehingga dalam islam ada unen-unen ; "kemiskinan itu dekat dengan kekafiran". Fakta sebenarnya, apa saja (harta, kedudukan, anak, istri, dls), dapat menjadi penghalang untuk manusia yang bermaksud untuk menempuh jalan kesucian. Contoh estrimnya ; sang Buddha mencampakkan tahta.. bukan sekedar punya PT atau punya sesuatu apa, lho seriuous banget to?
Unen-unennya ; bila memang tidak ingin menempuh jalan, apa saja akan menjadi alasan untuk tidak menempuhnya, namun bagi yang bertekad teguh untuk menempuhnya. . halangan itu hanya ilusi yang ada dalam fikiran kita... dan semua juga ingin membantu. Demikianlah kemurahan yang ada..
Demikian yang dapat saya sumbangkan, kira-kira uraiannya dapat menjelaskan apa yang Den Mas Bagus tanya atau tidak?
Kepada para sesepuh dan sahabat lainnya yang memiliki pandangan berbeda dipersilahkan. .
Salam,
Sunar-i
~~~
Posted by: "Den Mas Bagus Dhika" pritasi@yahoo. co.id pritasi
Mon Jul 30, 2007 9:56 pm (PST)
Saat sedang berbincang dengan seorang sahabat kusisipkan satu pertanyaan padanya.

dimas : Ton, bisa jelaskan ke saya gak, akan arti agama?
tono : Hmmm..., agama tuh sarana untuk memandu manusia menuju kebaikan. [1]
dimas : tapi mengapa, banyak manusia beragama yang justru berbuat kejahatan? [2]
tono : yah... mungkin mereka gak memanfaatkan sarana itu, sarana nya disimpan dirumah dan untuk menggapai tujuannya, mereka berjalan kaki tanpa panduan...
trus kesasar deh... hehehe... [3]
dimas : hahaha... trus sebenarnya mana yang lebih penting, Agama atau kebaikan itu sendiri? [4]
tono : Aaahhhh...., gue pusing. Gue jalan dulu yah..!
ngejar setoran nih, nemenin elu ngomong bisa-bisa anak istri gue gak makan.... [5]

Saudaraku adakah yang bisa membantu memberikan bekal mutiara pencerahan, berkenaan dengan percakapan dua manusia bodoh diatas....?

yang menanti,
dimas